Para ahli bahasa memiliki dua pendapat utama mengenai akar kata (derivasi) dari kata "Setan" (الشيطان) :
Dalam konteks penggunaan Al-Qur'an dan syariat, kata "Setan" (الشيطان) dapat merujuk pada dua hal:
Akar kata syin-tha'-nun (شطن), yang menjadi asal kata Setan (الشيطان) , disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 88 kali .
Kata tersebut muncul dalam dua bentuk utama:
{فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنۡهَا}
[Al-Baqarah: 36] (Maka Setan menggelincirkan keduanya dari surga...)
{وَٱتَّبَعُواْ مَا تَتۡلُواْ ٱلشَّيَٰطِينُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَيۡمَٰنَ}
[Al-Baqarah: 102] (Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman...)
Penggunaan kata "Setan" dalam konteks Al-Qur'an sejalan dengan makna linguistiknya, yaitu:
المتمرد الطاغي من الجن والإنس والدواب
"Setiap yang Membangkang dan Melampaui Batas (طاغي) dari kalangan Jin , Manusia , dan Hewan (Dawab) ."
Ini menguatkan pandangan bahwa "Setan" tidak hanya merujuk pada Iblis atau golongan jin saja, tetapi juga pada setiap entitas, termasuk manusia, yang menunjukkan sifat pembangkangan, kejahatan, dan penentangan terhadap kebenaran.
Sumber: https://modoee.com/show-book-scroll/524